Lakukan Bagianmu.

….. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri …. ”

Saya tau pertama kali tentang #food_combining a.k.a FC dari Bu Ketut Endah lewat buku – buku camilan sehat untuk anak – anak milik pak Wied Harry yang dipinjamkan ke saya bertahun lalu. Kemudian saat sadar tertegur dengan penyakit, mulailah saya mencari – cari secara mandiri apa itu FC dari internet, membaca banyak artikel disana dan mulai menerapkan dalam hidup sehari – hari.  Gabung ke group Food Combining Indonesia (FCI) di awal tahun 2014 adalah sekolah FC berikutnya. Gabung lagi dengan group Sehat Dengan Food Combining (SDFC) untuk menambah lagi ilmu FC. Memperdalam ilmu dengan membeli beberapa buku, adalah sekolah lanjutan berpola hidup sehat. Dan sampailah saya di hari ini. 

Siapakah yang berjasa dalam pertumbuhan saya sampai hari ini. Wow, banyak sekali. Bu Ketut Endah memberi dasar pada saya. Penulis buku – buku dan komunitas serta orang – orang di dalamnya menyiram agar saya bertumbuh, para senior FC menyiangi “rumput – rumput kesalahan” pemahaman saya, teman – teman seperjuangan memberi pupuk semangat. Mereka semua ngga ribut “mengklaim” bahwa dirinya yang paling berjasa, karena saya yakin mereka melihat tujuan besarnya tercapai, yaitu membuat setiap orang mencapai kualitas kesehatan yang maksimal. 

Kamu sudah menanam tapi disiram orang lain? Atau kamu sudah menyiram tapi diberi pupuk orang lain. Atau bahkan kamu sudah meletakkan bibit, tumbuh, berbuah namun dipanen orang lain? Jangan galau, percayalah, masing – masing orang yang sudah melakukan pekerjaannya, akan mendapat upah. Sebegitu maha adilnya Gusti Allah.

Advertisements

Karena Pelukan Adalah Kebutuhan.

13645115_10205124499391303_6797591139883593897_n

photo credit : pinterest

Saya dan mas bojo sama – sama dibesarkan dengan penuh kasih oleh orang tua yang sungguh sangat mengasihi kami. Tapi mereka sama – sama type orang tua yang jarang menunjukkan kasih mereka dengan sentuhan fisik, pelukan misalnya.

Saat kami berumahtangga, kami bersepakat untuk tidak meneruskan model pola asuh yang kami nilai kurang pas kami rasakan, salah satunya masalah “pelukan” tadi. Sejak anak – anak lahir, kami memenuhi hidup mereka dengan pelukan, wujud kasih kami. Bahkan sampai sekarang, si sulung sudah 9 tahun, “ritual” wajib sebelum berangkat sekolah atau bepergian tanpa saya adalah pelukan. Saat anak – anak ngga enak badanpun, yang dimaui mereka pertama kali hanya pelukan.

Bagi sebagian orang tua, pelukan mungkin terasa menurunkan wibawa. Namun menurut kami tidak demikian, anak – anak tetap menghormati dan tau batas meskipun secara fisik mereka dekat dan seolah tak berjarak dengan kami, orang tuanya.

Kami bersepakat, meneruskan pola asuh yang baik yang pernah kami terima, dan memutus siklus pola asuh yang kami rasa kurang baik.

Bukankah keturunan kita seharusnya lebih baik dari kita?

Saat Yang Super Tidak Lagi Super.

Ngga tahan untuk tidak menulis tentang kasus yang lagi heboh, seorang motivator yang terkenal dengan salam super – nya jadi bulan – bulanan netizen karena ditengarai tidak mau mengakui anak kandungnya dari perkawinan pertama. Alih – alih mengabaikan badai yang sedang menerpa, malah berdiri di tengahnya dengan membawa pembelaan bahwa yang bersangkutan bukanlah anak kandung.

Mungkin kalo sang motivator bukanlah orang terkenal yang seringkali mengajarkan kebajikan dan kebijakan, reaksi masyarakat tidak akan seheboh ini. Atau jika sang motivator tidak menembakkan peluru balik berupa pembelaan diri yang lebih menyakitkan lagi, pasti tidaklah seramai dan sekejam ini netizen memojokkan dirinya.

Entah pembelaan diri sang motivator benar atau tidak, namun di mata saya adalah aneh mengatakan hal ini sekarang. Dimana bukti – bukti begitu jelas berbicara bahwa sang motivator pernah terlihat berbahagia dengan anak yang dibilang buah cinta mantan istri dengan lelaki lain. Why? Kenapa tidak dari pertama saat tahu si anak bukan darah dagingnya, sang motivator segera meninggalkan perkawinan itu? Mengapa menunggu begitu lama hingga beberapa tahun untuk meninggalkan sang istri dan anaknya? Mengapa kemudian ini menjadi senjata pamungkas dengan harapan masyarakat bisa menerima sikap abai – nya pada si anak?

Apapun alasan di balik pembelaan sang motivator, buat saya pribadi, tidaklah  bijak menutupi “aib” dengan cara membuka “aib” orang lain. Motivator, yang kalimat – kalimat santun – nya begitu membangun banyak orang, menyikapi badai dengan cara membuat badai. Menambah luka yang sudah bertahun ditinggalkan tanpa terobati. Luka di hati mantan istri dan luka tambahan pada anaknya.

Karena saya paham, betapa menyakitkan perasaan diabaikan, dampaknya tidak hanya pada diri sendiri, tapi merembet di kehidupan sekitarnya.

Sebuah opini.

Berserah Namun Tidak Menyerah.

Pernah takut mati? Saya pernah, dan itu sangat menekan mental. Operasi pertama yang hanya berjarak 1.5 bulan dari operasi kedua, kemudian perintah untuk segera melakukan operasi ke 3 disertai vonis suspect tumor hidung sebulan kemudian membuat saya panik. Akankah saya segera mati? Bayangan anak – anak tanpa saya, apalagi si bungsu saat itu masih 1 tahun 8 bulan makin membuat perasaan saya merana atau “nggrentes” kalo kata orang jawa.

Kepanikan yang membuat saya memaksa Tuhan untuk segera menyembuhkan dalam doa – doa penuh todongan. Kepanikan juga yang membuat otak waras saya ngga bekerja baik hingga menghabiskan uang jutaan untuk membeli produk – produk kesehatan yang penuh janji “kanker sembuh, tumor hilang, kista lenyap”. Kepanikan yang membuat saya menjadi sensitif dan sering salah mengerti pada orang – orang disekeliling saya. Kepanikan yang membuat saya gemetar hebat saat membaca atau mendengar berita kematian. Kepanikan yang akhirnya membuat saya jatuh terpuruk melebihi penyakit fisik itu sendiri.

Sampai kemudian kesadaran itu datang dalam sebuah peristiwa, meninggalnya seorang teman yang selama ini sehat dan aktif. Tanpa sakit apapun, berangkat tidur dan kemudian tidak pernah bangun lagi. Bahwa sakit (berat) bukanlah syarat mati, itu benar – benar jelas terbaca dari peristiwa ini. Kemudian berantai timbul kesadaran lain bahwa jika saya mati – pun anak – anak akan aman dalam pemeliharaanNya. Terlalu sombong kalo saya menganggap hanya saya yang paling mampu mengasuh anak – anak.

Kesadaran yang membuat saya memiliki semangat baru. Semangat untuk menikmati pola hidup sehat bukan dengan tujuan jangka pendek untuk segera sembuh, namun menikmati proses spiritual di dalamnya. Konsisten, pengendalian diri fisik dan mental serta kesabaran adalah beberapa pelajaran yang saya dapat dari pola hidup sehat yang saya pilih.

Tidak menyerah dalam usaha yang kita bisa namun berserah padaNya akan melegakan proses perjalanan menuju pulang. Bukankah semua yang hidup akan mati? Bukankah hidup ini adalah perjalanan spiritual menuju pulang? Sungguh sangat mudah Tuhan memanggil kita pulang tanpa kita harus sakit dan jika kita diijinkan sakit, pasti itu adalah untuk memurnikan iman.

13669671_10205233875205630_307764380935805902_n

“Bisa” Dimulai Dari Pikiran.

Kamu tidak akan pernah tahu seberapa kuatnya dirimu, sampai bertahan tetap kuat adalah satu – satunya pilihan.

Terjemahan quote berbahasa inggris yang saya baca 4 tahun lalu. Awal perjuangan membesarkan 3 anak yang berjarak 2.5 dan 3 tahun. Semua masih dibawah 7 tahun yang berbarengan membutuhkan perhatian. Si sulung yang baru masuk kelas 1 SD, si tengah di TK kecil dan bungsu yang baru saja lahir. Jauh dari keluarga dan tanpa ART adalah tantangan yang harus dihadapi, dan musuh yang harus dikalahkan. Terus menerus mengandalkan suami rasanya tidak mungkin, karena suami dibayar untuk mengemban tanggungjawab. Maka mulailah hari – hari panjang, 24 jam dan 7 hari berjibaku dengan urusan pengasuhan dan “pemeliharaan” mereka.

Tidak perlulah saya jabarkan mendetail keriweuhannya, tapi beberapa yang masih saya ingat membuat saya hanya bisa bersyukur dan berguman “kok bisa ya …”. Menyuap si tengah, sambil menyisir rambut si sulung, sambil ngASI si bungsu. Menggandeng si tengah, tangan lain menopang kepala si bungsu dalam gendongan sambil memegang payung, memberi aba – aba si sulung untuk jalan di “track”nya adalah hari – hari saat harus kembali naik angkot dari sekolah ke rumah atau dari rumah – sekolah – rumah, saat si tengah masuk siang. Sampai kemudian si bungsu umur 3 bulan, kembali bisa menggendongnya sambil naik motor, jemput 2 kakaknya ke sekolah. Sudah nyaman? Belum…. ujian bertambah lagi saat si tengah yang hobi tidur di motor membuat saya harus cari cara sepanjang jalan ngajak bicara. “Siksaan” belum berakhir bahkan lebih lagi saat musim hujan ber – 4 motoran sambil kedinginan terhempas hujan, berbarengan dengan itu kondisi sinusitis saya mulai meradang kronis. Fiuh……

4 tahun bisa terlewati. Badai kerepotan mengurus bayi dan balita sudah terlampaui. Mereka sudah lebih mandiri, menjadi anak – anak yang tangguh. Ibarat sekarang saya sudah bisa sedikit menarik nafas.

Tidakkah saya lelah dan menyerah? Lelah pasti – lah, manusiawi sekali. Kadang sampai menggelepar ngga punya lagi tenaga. Tapi merana, terlalu mengasihani diri, menyalahkan orang lain dan keadaan? Saya memilih tidak mengambil sikap itu, karena saya tau itu malah akan melemahkan langkah.

Bahwa saat kita tidak menyerah dalam situasi yang diijinkanNya, Tuhan pasti memberikan kekuatan sudah saya buktikan, bahwa sesuatu yang tidak bisa membunuhmu pasti akan membuatmu lebih kuat itupun juga terbukti. Bahwa setiap pilihan – pilihan hidup mengandung konsekuensi juga sudah saya aminkan.

Kamu sedang dalam situasi yang riweuh sekarang? Tetap berjalanlah, karena badai pasti berlalu. Selamat pagi, selamat menebar semangat hari ini.

Kejatuhan Rohani.

Kejatuhan apa yang paling sering terjadi di hidupmu? Kejatuhan tersering saya dalam hal rohani alias kehidupan spiritual. Bukan kejatuhan yang mengerikan misalnya melakukan tindakan amoral, namun hubungan yang hambar dengan sang pencipta karena saya menjauh. Ya benar, saya sesekali meninggalkan “kewajiban – kewajiban” yang pada akhirnya membuat hubungan menjadi sunyi. Bayangkan seandainya hubungan dengan sang Pencipta itu ibarat suami – istri yang tinggal serumah tapi ngga saling ngobrol, ngga saling meluangkan waktu untuk bercengkerama karena salah satu pihak menyibukkan diri. Itulah saya.

Berkali kejatuhan yang sama terulang, sampai untuk bangkit dan memperbaiki hubungan-pun menjadi takut, “jangan – jangan nanti jatuh lagi…”.atau saat saya kembali berhasil melangkah memperbaiki hubungan, timbul ketakutan untuk membebaskan diri “apakah ini hanya eforia saja yang esok hari padam lagi..”

Apapun itu, pada akhirnya saya tetap memilih untuk bangkit. Selama nafas masih melekat di raga, bukankah berarti kesempatan? Bukankah setiap kesempatan layak untuk dicoba?

Selamat malam, apapun kejatuhanmu tidaklah menjadi masalah saat kamu memutuskan untuk mencoba bangkit lagi.

 

14142057_10205434738307082_4242718746375714794_n

photocredit : pinterest

Pelayan Sejati

“Bahwa pelayan itu letaknya dibawah orang yang dilayani, “ngenger” Nduk, kowe ngerti “ngenger” to? Mengabdi, rela dan tulus menerima tugas – tugas yang dianggap sepele. Gusti Yesus saja memberi teladan begitu. Pelayan sejati bukan orang yang ingin tampil dan dipuja, pelayan sejati memastikan “Ndoro” alias Tuan-nya sejahtera..” Ucapan seorang dosen senior sahabat kami, yang mendadak jadi tukang parkir di halaman gereja pada sebuah ibadah perayaan paskah kemarin.

Besok, lusa dan seterusnya, berikan senyum terindah kita, untuk pelayan dalam hal yang kita anggap remeh temeh di gereja, tukang parkir, koster, office boy, dll. Mereka ini adalah pelayan sejati kita, yang memastikan kita nyaman beribadah. Berikan porsi penghormatan yang sama pada pelayan – pelayan ini, sama seperti kita selama ini menghormati pelayan – pelayan yang kita anggap “penting”.

Terimakasih pak dosen, “firman” yang lebih hidup dan nyata, dibanding deretan kata indah kadang tanpa makna.

Terus terngiang “Pelayan sejati memastikan Ndoro-nya sejahtera”.

 

servant_of_the_lord1.png

(photo credit : mudpreacer.org)