Memilih Jalan Sunyi.

Riuh rendahnya, gelak tawanya menggoda raga.

Melebur di dalamnya adalah sebuah keindahan.

Jatuh bersamanya menyaji beribu kenikmatan.

Ahhh….sungguh tak terkira rasanya.

 

Di satu sudut remang.

Jiwa tersisih diantara puja puji.

Hati merintih dalam perih.

Sungguhkah ini kebutuhan diri.

Atau sebuah ironi.

 

Sang Agung berbisik.

“Ssssstt….berdiamlah…

Banyak makna tak teraba,

Banyak cinta tak tersapa

Terlalu sulit kau mendengar, anakKu….”

 

Terperangah.

Terlalu lama, sungguh terlalu lama.

Mengenggam kebenaran diri.

Berbungkus kepongahan.

Dan tepukan di dada.

 

Saatnya aku pulang.

Menempuh jalan sunyi.

 

walking-away1

photo credit : linkedin.com

 

 

Advertisements

Yang Paling Hina.

Laki – laki itu

Duduk menekuk

Mengepul rokoknya

Berharap asap mampu menyembunyikan dirinya

Dari dunia

 

Masih terpekur, memainkan pandangannya

“aku menunggu anakku”

Mengapa kau tak masuk rumah gedong itu?

“aku malu, tak cukup terpandang diri untuk masuk ke dalamnya”

Ah, rumah gedong itu milik semua orang

“milik semua orang yang bukan sepertiku”

 

Tidak, bahkan rumah gedong itu milikmu, dia akan memberikan pakaian pada orang yang tidak berpakaian, dia akan memberikan makan pada orang yang lapar, bahkan dia juga akan mengunjungi orang yang dipenjara.

 

“aku sudah mencoba masuk, bahkan aku sudah duduk dalam kemegahannya, tidak ada baju untukku, tidak ada makanan untukku”

 

Diam. Sunyi. Sepi.

 

vivian-maier-poor-man-of-the-street-eating-new-york-1959-1024-postbit-2268

photo credit : allpics.com

Lazarus.

Tok…tok….tok…ketuk kayu sepatumu.

Wajah pongah, dagu terangkat, langkah tegap.

Tergopoh pelayan mengikuti gerakmu.

 

Kaki menyilang, kilau kulit terawat menusuk.

“Pelayan, hidangkan yang termewah, terlezat..!”

 

Bersimpuh berteman dingin marmer putih jelita.

Ibu jari beradu dengan telunjuk. Sebesar itu lebih dari cukup menjepit remah – remah yang tercecer dari kemewahan.

Bahkan si setia, ikut berpesta, menjilat diatas luka. Perih. Pedih. Lalu mati.

Semua mati.

 

“Sang Agung, tolong mintalah pengemis itu, meneteskan sedikit air untukku, panas…panas…disini sangat panas..”

Biarkanlah dia menikmati keteduhannya.

“Sang Agung, bukankah dia ikut menikmati makananku disana?”

Dia menjumput yang terbuang.

“Sang Agung, aku menyesal, beritahukanlah pada mereka, berbaik – baiklah”

Buku kehidupan terbuka ‘nak, biarlah yang bijak mendengar.

 

rich_man_and_lazarus-1

photo credit : theladypastor.blogspot.com

Dancing In The Rain.

Selama bumi masih ada

Panas dan hujan saling bersua

Kumpulan tanaman berria

Atap langit rumah sejatinya

Cucuran melimpah membelai rasa

 

Siapkan tempat berpindah

Rumah pakaian gamang

Kering belum basah tidak lagi

Saat sang surya mulai manja

Tak lagi memancar penuh kuasa

 

Siapkan peneduh dalam kereta kuda

Meski cipratan bawa bocah bersuka

Bagaimanapun hati bunda

Tetap lindungi belahan jiwa

Tameng mara bahaya

 

Menari…menarilah

Dalam kecipak basah

Pandang tengadah

Basahi wajah

Hilang semua gundah

 

dancing

photo credit : pxleyes.com

Malaikat Tak Bersayap.

an-angel-without-wings-angel-creative-dreaming_large

photo credit : pics – group.com

Lara menyapa saat duka melanda tanpa permisi datang tetiba

Dalam rinai tangis doa terpanjat memohon tangan panjang Ilahi terulur menopang

Dalam harap cemas teriak lantang menyayat harap telinga Ilahi tajam mendengar

Sunyi dan sepi

Tangan tak terulur

Telinga tak mendengar

 

Sebuah pundak terbuka

Memberi ruang jiwa bicara

Lirih angin berbisik

“Dialah malaikat tak bersayap, kukirim hanya untukmu….anakku…”

Karena Aku Lemah.

helen-congo-kid

photo credit : beliefnet.com

Aku tak sekuat yang kamu lihat.
Aku tak setegar yang kamu ingat.
Kadang aku merasa penat.
Rasa ini begitu berat

Terdiam dalam ragu
Penuh cinta memelukku
“Kuatkan dan teguhkan hatimu”
“Karena inipun akan berlalu”
“Aku bekerja dalam segala sesuatu”
“Untuk mendatangkan kebaikan bagimu”
“AnakKu”

Bahagia Itu Sederhana.

Nasi dan garam

Dibumbu dengan tawa

Diluar sana banyak yang papa

Bahagia itu sederhana

 

Air campur tanah

Adonan roti istimewa

Bocah cilik tertawa bersuka

Bahagia itu sederhana

 

Baju tiga seribu

Sepatu ngga pernah baru

Tas harmes bukan hermes

Bahagia itu sederhana

 

Sebotol air seplastik gorengan

Bawah pohon angin memanja

Bayangkan saja di pinggir niagara

Bahagia itu sederhana

 

Sepeda tua pakai bertiga

Kayuh kuat dengan cinta

Berasa naik kereta kencana

Bahagia itu sederhana

 

Bahagia itu sederhana

Bukan di harta tapi di jiwa

Bahagia itu sederhana

Bukan di kaya tapi di cinta