Mengapa Saya Nge – Blog (Lagi)?

Ini bukan kali pertama saya nulis di blog gratisan. Sejak beberapa tahun terakhir saya sudah beberapa kali nge – blog dan beberapa kali pula menyerah, alias menutupnya. Blog terakhir ini sudah saya buat sejak bulan April ’16 lalu, kemudian teronggok begitu saja hingga berdebu. Berbulan saya tidak punya semangat untuk mengurusi. Sampai kemudian saya alami kejenuhan di facebook, media utama tempat saya menyalurkan hobi menulis, saya mulai membersihkan debu – debunya. Rencana besar mas bojo alias suami saya sejak dulu kala adalah menjadikan blog sebagai sarana dan rumah saya menulis. Dia begitu paham bahwa saya talenta saya disini, menulis, bukan jualan, bukan masak, bukan pula bersolek.  Selain itu tujuan sampingan saya bisa dapet penghasilan tambahan dari blog, dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Fiuh, tujuan mulia mas bojo bertahun lalu yang tidak saya indahkan, tidak begitu saya dukung karena dalam pikiran saya, saya merasa dunia blog terlalu sepi, apalagi blog gratisan, ditambah lagi ketidaksemangatan saya menulis di blog menjadikan blog tambah sepi, saya menyerah.

Beberapa hari lalu kala saya mengungkapkan kejenuhan saya di facebook dan hendak menutupnya, mas bojo sudah warning, jangan!!  Pasti dia tahu keinginan saya didukung semangat yang terkadang naik turun, sehingga lebih baik untuk saya mengistirahatkan facebook dibanding menutup permanen. Tawaran mas bojo mengubah domain berbayar untuk blog saya ini juga saya tunda. Nantilah, pelan – pelan saja,  sayang kalo nantinya saya tidak memanfaatkan dengan maksimal.

Hari – hari ini saya sedang memaksa diri keluar dari zona nyaman saya di facebook. Masa transisi yang tidak mudah, seolah merasakan derita orang yang putus cinta, meninggalkan facebook sungguh menyakitkan. Sesekali mengintip apa yang terjadi di dalamnya, tapi sementara ini berusaha tidak berinteraksi. Kesepian yang memaksa saya belajar banyak, belajar dunia baru yang sudah lama saya kenal. Berkenalan dengan banyak hal di dalamnya yang selama ini hanya saya tahu saja, tidak saya pahami mendalam. Padahal untuk kita mencintai sesuatu, harus melebur di dalamnya bukan?

Bahwa dalam hidup hanya keabadianlah yang tidak abadi. Segala hal berubah, menyiapkan diri menghadapi perubahan lebih baik daripada menyangkali diri dalam kejenuhan.

Wangsit bangun tidur siang ini.

 

Tuan, Nyonya dan Pembantu.

Pembantu kena

Nyonya lagi murka

Nyonya lagi kecewa

Tuan main ama gadis muda

 

Pembantu nguap nyonya gundah

Pembantu kentut nyonya marah

Pembantu bingung jadi resah

Semua semua serba salah

 

Tuan juga bikin masalah

Udah tua masih cari celah

Lupa badan udah bau tanah

Kalo ditanya hobi berkilah

 

Nyonya jelas sakit hati

Sejak muda ditemani

Masih miskin didampingi

Udah kaya khianati

 

Pacar tuan ayu seksi

Tinggi semampai bau wangi

Dibawa kesana kemari

Udah kayak laki bini

 

Nyonya lelah banting diri

Kasur empuk bagai peti

Badan gemuk tak lagi diurusi

Pikir tuan belahan hati

Testimoni Sinusitis, Kista/Polip Hidung dan Suspect Tumor Hidung.

Sebagai seorang suspect alias terduga tumor hidung, bertahan 3 tahun sejak diagnosa diucapkan dokter adalah berkat yang luar biasa. Sinusitis yang menjalar ke kista/polip hidung yang sesudah 2 kali operasi dalam waktu hanya 3 bulan, selalu tumbuh lagi kurang dari 1 bulan sesudah diangkat adalah tanda dari adanya keagresifan sifat sel.

Menjalankan pola makan sehat alami c.q. #food_combining secara konsisten adalah harga mati yang sudah tidak bisa ditawar lagi, ditambah mengubah pola pikir bahwa saya adalah tuan atas tubuh saya sendiri. Saya memerlukan dokter, mereka adalah asisten saya untuk membantu mengetahui apa yang terjadi atas tubuh saya, namun saya memilih menolak menyerahkan nasib saya pada mereka.

Menjalankan FC secara mandiri dengan jatuh bangun alias salah-perbaiki-salah-perbaiki, memaafkan diri sendiri yang sudah mendzolimi tubuh bertahun lamanya, menerima penyakit sebagai sapaan cintaNya, berusaha menghalau perasaan melow dan galau, dan ujungnya adalah berserah pada kehendakNya.

Syukur kepada Tuhan, tentu saja karena ijinNya saya masih hidup sampai hari ini. Total jenderal sudah 2 tahun lepas obat kimia dan herbal, benar – benar mengendalikan penyakit dari pola makan dan pola pikir. Tetap enerjik dan sehat, dimampukan mengurus 3 anak tanpa asisten rumah tangga adalah prestasi tersendiri buat saya.

Saya hanyalah satu dari sekian banyak orang yang membuktikan bahwa pola makan sehat alami mampu memulihkan keadaan sakit. Namun terlepas dari apa yang kita lakukan, berdamai dengan diri sendiri dan melakukan dengan hati gembira mutlak dilakukan.

Jangan ragu memulai pola makan sehat alami, percayalah, tidak ada produk atau supplemen apapun yang harus kita beli dalam #food_combining. Karena alami berarti alami.

Salam sehat ala saya.

Berserah Namun Tidak Menyerah.

Pernah takut mati? Saya pernah, dan itu sangat menekan mental. Operasi pertama yang hanya berjarak 1.5 bulan dari operasi kedua, kemudian perintah untuk segera melakukan operasi ke 3 disertai vonis suspect tumor hidung sebulan kemudian membuat saya panik. Akankah saya segera mati? Bayangan anak – anak tanpa saya, apalagi si bungsu saat itu masih 1 tahun 8 bulan makin membuat perasaan saya merana atau “nggrentes” kalo kata orang jawa.

Kepanikan yang membuat saya memaksa Tuhan untuk segera menyembuhkan dalam doa – doa penuh todongan. Kepanikan juga yang membuat otak waras saya ngga bekerja baik hingga menghabiskan uang jutaan untuk membeli produk – produk kesehatan yang penuh janji “kanker sembuh, tumor hilang, kista lenyap”. Kepanikan yang membuat saya menjadi sensitif dan sering salah mengerti pada orang – orang disekeliling saya. Kepanikan yang membuat saya gemetar hebat saat membaca atau mendengar berita kematian. Kepanikan yang akhirnya membuat saya jatuh terpuruk melebihi penyakit fisik itu sendiri.

Sampai kemudian kesadaran itu datang dalam sebuah peristiwa, meninggalnya seorang teman yang selama ini sehat dan aktif. Tanpa sakit apapun, berangkat tidur dan kemudian tidak pernah bangun lagi. Bahwa sakit (berat) bukanlah syarat mati, itu benar – benar jelas terbaca dari peristiwa ini. Kemudian berantai timbul kesadaran lain bahwa jika saya mati – pun anak – anak akan aman dalam pemeliharaanNya. Terlalu sombong kalo saya menganggap hanya saya yang paling mampu mengasuh anak – anak.

Kesadaran yang membuat saya memiliki semangat baru. Semangat untuk menikmati pola hidup sehat bukan dengan tujuan jangka pendek untuk segera sembuh, namun menikmati proses spiritual di dalamnya. Konsisten, pengendalian diri fisik dan mental serta kesabaran adalah beberapa pelajaran yang saya dapat dari pola hidup sehat yang saya pilih.

Tidak menyerah dalam usaha yang kita bisa namun berserah padaNya akan melegakan proses perjalanan menuju pulang. Bukankah semua yang hidup akan mati? Bukankah hidup ini adalah perjalanan spiritual menuju pulang? Sungguh sangat mudah Tuhan memanggil kita pulang tanpa kita harus sakit dan jika kita diijinkan sakit, pasti itu adalah untuk memurnikan iman.

13669671_10205233875205630_307764380935805902_n

“Bisa” Dimulai Dari Pikiran.

Kamu tidak akan pernah tahu seberapa kuatnya dirimu, sampai bertahan tetap kuat adalah satu – satunya pilihan.

Terjemahan quote berbahasa inggris yang saya baca 4 tahun lalu. Awal perjuangan membesarkan 3 anak yang berjarak 2.5 dan 3 tahun. Semua masih dibawah 7 tahun yang berbarengan membutuhkan perhatian. Si sulung yang baru masuk kelas 1 SD, si tengah di TK kecil dan bungsu yang baru saja lahir. Jauh dari keluarga dan tanpa ART adalah tantangan yang harus dihadapi, dan musuh yang harus dikalahkan. Terus menerus mengandalkan suami rasanya tidak mungkin, karena suami dibayar untuk mengemban tanggungjawab. Maka mulailah hari – hari panjang, 24 jam dan 7 hari berjibaku dengan urusan pengasuhan dan “pemeliharaan” mereka.

Tidak perlulah saya jabarkan mendetail keriweuhannya, tapi beberapa yang masih saya ingat membuat saya hanya bisa bersyukur dan berguman “kok bisa ya …”. Menyuap si tengah, sambil menyisir rambut si sulung, sambil ngASI si bungsu. Menggandeng si tengah, tangan lain menopang kepala si bungsu dalam gendongan sambil memegang payung, memberi aba – aba si sulung untuk jalan di “track”nya adalah hari – hari saat harus kembali naik angkot dari sekolah ke rumah atau dari rumah – sekolah – rumah, saat si tengah masuk siang. Sampai kemudian si bungsu umur 3 bulan, kembali bisa menggendongnya sambil naik motor, jemput 2 kakaknya ke sekolah. Sudah nyaman? Belum…. ujian bertambah lagi saat si tengah yang hobi tidur di motor membuat saya harus cari cara sepanjang jalan ngajak bicara. “Siksaan” belum berakhir bahkan lebih lagi saat musim hujan ber – 4 motoran sambil kedinginan terhempas hujan, berbarengan dengan itu kondisi sinusitis saya mulai meradang kronis. Fiuh……

4 tahun bisa terlewati. Badai kerepotan mengurus bayi dan balita sudah terlampaui. Mereka sudah lebih mandiri, menjadi anak – anak yang tangguh. Ibarat sekarang saya sudah bisa sedikit menarik nafas.

Tidakkah saya lelah dan menyerah? Lelah pasti – lah, manusiawi sekali. Kadang sampai menggelepar ngga punya lagi tenaga. Tapi merana, terlalu mengasihani diri, menyalahkan orang lain dan keadaan? Saya memilih tidak mengambil sikap itu, karena saya tau itu malah akan melemahkan langkah.

Bahwa saat kita tidak menyerah dalam situasi yang diijinkanNya, Tuhan pasti memberikan kekuatan sudah saya buktikan, bahwa sesuatu yang tidak bisa membunuhmu pasti akan membuatmu lebih kuat itupun juga terbukti. Bahwa setiap pilihan – pilihan hidup mengandung konsekuensi juga sudah saya aminkan.

Kamu sedang dalam situasi yang riweuh sekarang? Tetap berjalanlah, karena badai pasti berlalu. Selamat pagi, selamat menebar semangat hari ini.

Manusia Penghina Tuhan.

Bunga bakung tak harus bangun pagi dan ribut menghias diri, sang Agung selalu bersiap menghias setiap lekuk cantiknya.Bunga rumput yang esok dibuang ke api, tak luput dibelai berhias cinta di hati.

Burung pipit, burung layang – layang tak pernah resah gunanya menanya apa makan-nya, bahkan rumahhnya diberi dengan rasa nyaman, tempatnya menaruh badan dan bersembunyi dari gelap malam.

Manusia, sibuk menelikung sesamanya. Meremehkan sang pencipta tak mampu adil membagi makanannya. Manusia, ribut mematikan sesamanya, menghina sang pemilik nyawa tak mampu menjamin isi perutnya.

Apa yang kan dikejar, kalau nyawa sudah antri berjajar?

e5b861829ce3d6084ed1c59e0bbfbd60

photo credit : pinterest.com

Alergi Dan Food Combining

Keponakan saya yang di Solo, Aiko namanya. Beberapa waktu lalu, ponakan saya ini sering banget gatal – gatal di badannya. Kalo sudah gatal dan jadi bentol, duh…kasian liatnya. Tiap kali bentol, dibawa ke dokter, minum obat, bentolpun ilang tapi nanti timbul lagi. Dokter bilang gatalnya karena alergi, selama pencetus alergi-nya ngga dibereskan, maka akan terus hilang timbul.

Sampe beberapa minggu kemaren, orang tuanya, yang adalah kakak saya mencoba menerapkan pola makan FC. Ngga cuma ke anaknya, tapi mereka berdua juga melakukannya, keren khan, si anak ngga merasa “berjuang” sendirian. Kedua orang tuanya ikut makan buah, ikut minum jus sayur, ngga lagi makan camilan ngga sehat, stop minum manis, termasuk teh manis yang sebelumnya jadi minuman rutin, stop susu dan turunannya, terigu dan turunannya dan sementara masih berusaha mengurangi drastis protein hewani.

Kemarin ketemu mereka dalam rangka main ke Salatiga. Denger cerita langsung bagaimana perjuangan mereka, wow…saya sungguh salut dan terharu. Ponakan saya ini, dengan sukarela, tanpa “memberontak” melakukan apa yang diarahkan ortunya dengan manis. Pagi cuma makan buah, rajin minum jus sayur, ngga lagi minum susu, ngga makan lagi snack pabrikan. Hebat kan, untuk anak 6 tahunan yang lingkungannya rame dengan produk pabrikan.

Ponakan saya masih berjuang untuk pulih. Terkadang masih timbul bentolnya, tapi ukurannya jauuuuhh lebih kecil dan tidak menyebar, hanya satu dua tempat saja. Kemajuan yang luar biasa dan layak disyukuri.

Demi kenyamanan psikis-nya juga, ada saat dimana dia diberikan kesempatan untuk makan “agak nakal”, dan kerennya lagi, dia sekarang bisa paham makanan apa saja yang bikin bentol – nya dateng lagi tanpa orang tuanya harus melarang – larang. Kalo dia ngga tau makanan itu aman atau nggak, akan nanya dulu ke ortunya “ini bikin adek sakit ngga?” Seperti yang di foto, adalah hasil makan nakal kemarin di Salatiga hehehe…

Yuk ah, teman – teman, khususnya ortu yang lagi berjuang untuk kesembuhan masalah kesehatan anaknya, boleh contoh semangatnya Aiko dan orang tua-nya, jangan cuma menerapkan aturan saja, tapi mendukung dengan ikut berjalan bersama.

Salut untuk kedua kakakku dan Aiko…semangat, iman, pengharapan mereka. God Bless You.