Lazarus.

Tok…tok….tok…ketuk kayu sepatumu.

Wajah pongah, dagu terangkat, langkah tegap.

Tergopoh pelayan mengikuti gerakmu.

 

Kaki menyilang, kilau kulit terawat menusuk.

“Pelayan, hidangkan yang termewah, terlezat..!”

 

Bersimpuh berteman dingin marmer putih jelita.

Ibu jari beradu dengan telunjuk. Sebesar itu lebih dari cukup menjepit remah – remah yang tercecer dari kemewahan.

Bahkan si setia, ikut berpesta, menjilat diatas luka. Perih. Pedih. Lalu mati.

Semua mati.

 

“Sang Agung, tolong mintalah pengemis itu, meneteskan sedikit air untukku, panas…panas…disini sangat panas..”

Biarkanlah dia menikmati keteduhannya.

“Sang Agung, bukankah dia ikut menikmati makananku disana?”

Dia menjumput yang terbuang.

“Sang Agung, aku menyesal, beritahukanlah pada mereka, berbaik – baiklah”

Buku kehidupan terbuka ‘nak, biarlah yang bijak mendengar.

 

rich_man_and_lazarus-1

photo credit : theladypastor.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s