Karena Aku Lemah.

helen-congo-kid

photo credit : beliefnet.com

Aku tak sekuat yang kamu lihat.
Aku tak setegar yang kamu ingat.
Kadang aku merasa penat.
Rasa ini begitu berat

Terdiam dalam ragu
Penuh cinta memelukku
“Kuatkan dan teguhkan hatimu”
“Karena inipun akan berlalu”
“Aku bekerja dalam segala sesuatu”
“Untuk mendatangkan kebaikan bagimu”
“AnakKu”

Bahagia Itu Sederhana.

Nasi dan garam

Dibumbu dengan tawa

Diluar sana banyak yang papa

Bahagia itu sederhana

 

Air campur tanah

Adonan roti istimewa

Bocah cilik tertawa bersuka

Bahagia itu sederhana

 

Baju tiga seribu

Sepatu ngga pernah baru

Tas harmes bukan hermes

Bahagia itu sederhana

 

Sebotol air seplastik gorengan

Bawah pohon angin memanja

Bayangkan saja di pinggir niagara

Bahagia itu sederhana

 

Sepeda tua pakai bertiga

Kayuh kuat dengan cinta

Berasa naik kereta kencana

Bahagia itu sederhana

 

Bahagia itu sederhana

Bukan di harta tapi di jiwa

Bahagia itu sederhana

Bukan di kaya tapi di cinta

 

Perempuan Itu.

Perempuan Itu

 

Diam tak mengeluh

Sujud bersimpuh

Sendiko dawuh

 

Masak

Macak

Manak

 

“Kamu belahan jiwaku, Kakang”

Bahkan tetap begitu

Meski kamu membelah rasa

 

“Kamu separuh nafasku, Kakang”

Bahkan selalu begitu

Meski kamu memaruh suka

 

Surga nunut neraka katut

“Aku bisa apa, Kakang?”

 

T T M (Teman Tapi Menusuk).

Kamu peluk aku

Diantara sengguk tangisku

Kamu bilang

“Jangan takut, aku ada untukmu”

 

Nanar matamu

Dengar curhatku

Kau sentuh bahuku

“Tenang, semua kan baik saja”

 

Jangan, jangan menengok

Teruslah maju

“Karena kusedang beradu padu

dibelakangmu”

 

Ayo jangan menyerah

Tantang masalah

“Karena kusedang indah merekah

dibelakangmu”

 

Lakukan Bagianmu.

….. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri …. ”

Saya tau pertama kali tentang #food_combining a.k.a FC dari Bu Ketut Endah lewat buku – buku camilan sehat untuk anak – anak milik pak Wied Harry yang dipinjamkan ke saya bertahun lalu. Kemudian saat sadar tertegur dengan penyakit, mulailah saya mencari – cari secara mandiri apa itu FC dari internet, membaca banyak artikel disana dan mulai menerapkan dalam hidup sehari – hari.  Gabung ke group Food Combining Indonesia (FCI) di awal tahun 2014 adalah sekolah FC berikutnya. Gabung lagi dengan group Sehat Dengan Food Combining (SDFC) untuk menambah lagi ilmu FC. Memperdalam ilmu dengan membeli beberapa buku, adalah sekolah lanjutan berpola hidup sehat. Dan sampailah saya di hari ini. 

Siapakah yang berjasa dalam pertumbuhan saya sampai hari ini. Wow, banyak sekali. Bu Ketut Endah memberi dasar pada saya. Penulis buku – buku dan komunitas serta orang – orang di dalamnya menyiram agar saya bertumbuh, para senior FC menyiangi “rumput – rumput kesalahan” pemahaman saya, teman – teman seperjuangan memberi pupuk semangat. Mereka semua ngga ribut “mengklaim” bahwa dirinya yang paling berjasa, karena saya yakin mereka melihat tujuan besarnya tercapai, yaitu membuat setiap orang mencapai kualitas kesehatan yang maksimal. 

Kamu sudah menanam tapi disiram orang lain? Atau kamu sudah menyiram tapi diberi pupuk orang lain. Atau bahkan kamu sudah meletakkan bibit, tumbuh, berbuah namun dipanen orang lain? Jangan galau, percayalah, masing – masing orang yang sudah melakukan pekerjaannya, akan mendapat upah. Sebegitu maha adilnya Gusti Allah.

Karena Pelukan Adalah Kebutuhan.

13645115_10205124499391303_6797591139883593897_n

photo credit : pinterest

Saya dan mas bojo sama – sama dibesarkan dengan penuh kasih oleh orang tua yang sungguh sangat mengasihi kami. Tapi mereka sama – sama type orang tua yang jarang menunjukkan kasih mereka dengan sentuhan fisik, pelukan misalnya.

Saat kami berumahtangga, kami bersepakat untuk tidak meneruskan model pola asuh yang kami nilai kurang pas kami rasakan, salah satunya masalah “pelukan” tadi. Sejak anak – anak lahir, kami memenuhi hidup mereka dengan pelukan, wujud kasih kami. Bahkan sampai sekarang, si sulung sudah 9 tahun, “ritual” wajib sebelum berangkat sekolah atau bepergian tanpa saya adalah pelukan. Saat anak – anak ngga enak badanpun, yang dimaui mereka pertama kali hanya pelukan.

Bagi sebagian orang tua, pelukan mungkin terasa menurunkan wibawa. Namun menurut kami tidak demikian, anak – anak tetap menghormati dan tau batas meskipun secara fisik mereka dekat dan seolah tak berjarak dengan kami, orang tuanya.

Kami bersepakat, meneruskan pola asuh yang baik yang pernah kami terima, dan memutus siklus pola asuh yang kami rasa kurang baik.

Bukankah keturunan kita seharusnya lebih baik dari kita?

Saya Harus Memilih Pola Makan Yang Mana?

Pertanyaan yang akhir – akhir ini sering saya dengar berkaitan dengan pola makan. Jawaban saya tetap sama : terserah kamu, itu hidupmu, bukan hidup saya, lha wong mas bojo ga mau ikut pola makan saya aja ga saya paksa 🙂 apalagi orang lain. Meskipun saya rajin sharing tentang #food_combining, tapi saya berusaha tidak mempengaruhi orang dalam mengambil keputusan. Setiap orang harus mengambil keputusan secara sadar dan mandiri, bukan terpaksa, dipaksa atau dalam pengaruh atau bahkan iming – iming sesuatu.

Jadi gimana nih, dokter itu ngomong A, dokter lain ngomong B, ahli kesehatan lain ngomong C. Buat saya pribadi, membuka diri terhadap ilmu baru itu baik. Tapi kita harus tau batasnya dimana harus berhenti mencari tahu. Nilai diri sendiri, bagaimana karakter kita, gampang terpengaruh? Mudah galau dan bimbang? Atau kita adalah orang yang tangguh. Contoh yang pernah saya unggah adalah kisah Yusuf yang digoda istri Potifar. Yusuf tahu dan sadar, sebagai lelaki normal bisa saja dia jatuh dalam godaan, karena itu sampai pada batasnya dia memutuskan untuk lari. Kalo karakter kita mudah galau dan bimbang, ya jangan malah menjatuhkan diri, jangan makin mengorek – ngorek lebih dalam.

Lalu ukuran benar dan salah itu apa? Relatif. Kalo saya selalu saya kembalikan pada hati nurani, dimana disana “utusan Tuhan berdiam”. Berdoa, berdiam dan rasakan. Ukuran perkenanan Tuhan adalah damai sejahtera alias ketenangan hati.

Tapi saya sakit, saya butuh segera sembuh. Oke, lakukan apa yang kamu inginkan. Tapi lagi – lagi saya bilang, buat saya pribadi, kesembuhan bukan sekadar fisik yang tetiba membaik dengan cepat, oke itu baik, itu harapan setiap orang yang sakit. Namun seyogyianya jalan kesembuhan yang kita tempuh harus benar secara iman. Meskipun saya bukanlah orang yang sempurna secara rohani, namun langkah yang saya ambil 2.5 tahun lalu untuk ber FC adalah harus benar dulu menurut iman yang saya yakini. Benar dalam arti benar sesungguhnya, bukan asal saya mencomot – comot ayat kemudian saya terapkan sesuai dengan keinginan saya untuk menenangkan hati. Memangnya pasal karet bisa dibuat fleksibel 😀

Sakit atau masalah fisik lainnya, (lagi – lagi) menurut saya adalah sapaan cinta sang Pencipta. Peringatan cantik dariNya agar kita mencintai tubuh, bersinergi dengannya dalam proses perjalanan pulang. Sakit atau tidak bukan ukuran kita mati cepat atau lambat. Alih – alih menjadi panik kemudian memaksa tubuh ikut maunya kita, Dia mengajar kita mendengar suaraNya, melalui tubuh. Nah, disinilah sebenarnya proses kesembuhan batin juga dimulai.

Saya mengamati, orang – orang besar yang sudah masuk dalam pemahaman bahwa pola makan adalah bagian dari hidup spiritual, malah tidak banyak bicara, tidak membanding – bandingkan dan tidak mencari pengikut. Mereka fokus pada apa yang diyakini dalam kesunyiannya. Kalopun mereka aktif di media sosial malah sibuk membangun karakter. Saran saya, ikutilah orang – orang besar ini.

Jadi closingnya, tetapkan pilihan dengan paham dan sadar. Jangan mendua hati, karena dalam urusan apapun mendua hati selalu berujung galau melanda dan bingung menyapa 😀