Sayur Matang, Sayur Mentah dan Jus Sayur.

Setahun lalu setelah anak – anak lepas dari gula (teh manis) dan susu, saya mulai memperkenalkan jus sayur pada mereka. Bukan hal yang mudah, namun karena itu selalu saya sediakan, mereka terbiasa. Kalo sekarang jus sayur menjadi minuman “biasa” buat mereka, itu adalah perjuangan panjang.

Sebenernya apa sih manfaat jus sayur, lalu apa bedanya dengan sayur matang (sayur yang dimasak)? Mengapa saya intens “mencekoki” anak – anak dengan jus sayur?

Sependek pengetahuan saya, enzim atau segala kandungan baik buah dan sayur yang menopang hidup manusia, ada dalam kondisi mereka masih mentah, termasuk sayuran mentah. Sayuran yang dimasakpun masih meninggalkan 2 hal baik yaitu beberapa mineral dan serat, selain memenuhi kebutuhan lidah akan sesuatu yang “enak” dimakan bareng nasi tentunya.

Masalahnya, perpaduan yang baik saat saya ngga kreatif masak sayur dan anak – anak juga kurang suka sayur (matang) karena bentukan pola makan yang salah dari mereka bayi. Mereka lebih senang makan nasi dengan protein, paling banter pakai sayur model capcay, bayam, ca sawi putih, sudah itu aja. Mereka pilih disuruh minum jus sayur daripada makan sayur (mateng). Nah ini jadi “Blessing Disguise” menurut saya.

Dulu, saya mulai ngasi jus sayur dari sayuran yang aman rasanya di lidah anak – anak dengan air yang agak banyak, jadi masih cukup encer. Wortel, tomat, timun, bayam, kol dan bengkoang adalah contoh sayuran “umum” yang cukup aman di lidah anak – anak. Selain enzim yang melimpah, wortel dan bengkoang adalah sayuran penyumbang rasa manis sehingga selalu saya padukan di saat – saat awal dulu mereka lepas dari teh manis. Saya selalu mengusahakan jus sayurnya berwarna dari 3 jenis sayur, cukup 3 jenis maksimal 4 jenis lah, tentunya berganti – ganti jenisnya setiap hari.

Setelah agak lama mereka terbiasa dengan jus sayur, mulai saya menambahkan sayuran yang agak “horor” dalam jumlah yang sedikit. Sawi hijau dan buah bit contohnya, yang meskipun disebut buah tapi masuk dalam golongan sayuran. Contoh 2 jenis sayuran ini berbau agak langu saat sudah dalam bentuk jus. Reaksi mereka “ini sayuran apa?” he..he..

Oh ya, jus sayur ini tidak boleh ditambah perasa apapun karena perasa bukan alami akan merusak enzim dalam sayuran. Dari awal memperkenalkan jus sayur pada anak – anak, saya hanya memaksimalkan wortel dan kadang bengkoang (ini malah jarang). Percayalah, kadang kita yang menerapkan standart lidah kita ke anak – anak, “aduh mana enak ngga ada rasa manisnya..” padahal anak – anak (c.q. anak saya) ngga berpikir seperti itu, mereka lempeng aja tanpa gula. Ada pendapat yang ngomong bahwa madu asli boleh ditambahkan pada jus sayur untuk anak, sepanjang kita yakin bahwa itu asli. Monggo, silakan saja, tapi kalo saya tetap lebih memilih jalur “apa adanya”, karena saya ngga ingin lidah mereka malah beralih tergantung pada rasa manis dari madu.

Kapan jus sayur diberikan pada anak? Kalo saya, biasanya pulang sekolah, 30 menit menjelang mereka makan siang dan sore/malam, 30 menit setelah makan malam. Porsi-nya maksimal 250ml saja atau untuk si bungsu 125ml, pakai gelas kecil. Untuk pemula saya sarankan perhitungkan faktor psikologis anak, kalo mereka ngga kuat jangan dipaksa menghabiskan, percayalah bahwa ini butuh proses, beri pujian untuk kemajuan mereka setiap harinya.

Pake apa bikin jus sayur? Saya masih pake blender biasa, dengan memilih kecepatan rendah agar sayuran tidak rusak kena panas pisau pemutarnya. Karena kecepatan rendah, sayuran perlu dipotong dalam ukuran kecil agar mudah hancur. Untuk anak – anak, sampai sekarang saya masih menyaring hasil jadinya, kecuali wortel – apel, satu – satunya sayur buah yang bisa di mix, saya ngga menyaring karena mereka malah senang dengan “pulp” – nya.

Tips lainnya agar sukses membiasakan anak minum jus sayur, minumlah barengan mereka. Beda kok hasilnya saat kita menerapkan aturan dan mereka melihat kita juga “terlibat” dalam aturan yang kita buat.

Demikian laporan saya pagi ini. Yang mau nanya – nanya (ah gede rasa..) atau malah mau melengkapi tulisan ini, dipersilakan dengan senang hati….nanti yah lanjut ngobrolnya, saya jemur – jemur dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s