“Level” Pekerjaan Mengikuti Pikiran

Waktu saya masih kerja kantoran, ada seorang helper ekspedisi yang mencuri perhatian saya. Setiap kali bertemu penampilannya ngga jauh beda dengan staf kantor pada umumnya. Baju rapi, pake sepatu, bau wangi, penampilan dan sikap yang elegan. Meskipun saat bekerja kadang saya lihat dia berganti sandal jepit.

Rasa kagum membuat saya memujinya dalam sebuah kesempatan. Dan jawabannya sungguh sangat dalam, “siapa lagi yang bisa menghargai pekerjaan saya, kalo ngga dimulai dari diri saya sendiri”. Satu kalimat yang sampai sekarang, selalu saya aminkan.

Betapa banyak profesi di dunia ini yang sebenarnya “direndahkan” sendiri oleh pelaku – nya karena mengikuti stereotipe yang sudah lama ada. Seorang helper merasa jenis pekerjaan-nya level rendahan, sehingga bekerja dan bersikap asal, yang nantinya makin menguatkan image yang sudah terbentuk berpuluh tahun. Seorang asisten rumah tangga yang merasa “cuma pembantu” yang ngga punya kemampuan lebih selain ngurus rumah tangga, kemudian menjadi minder menutup diri untuk melihat potensi lain dalam dirinya, sehingga makin terbatas untuk mengembangkan kemampuannya. Atau bahkan profesi ibu rumah tangga yang sekarang saya tekuni. Berapa banyak kita, para IRT yang masih malu – malu kucing saat harus menjawab pertanyaan apa pekerjaan kita, “saya CUMA ibu rumah tangga”. See… bukankah diri kita sendiri yang memulai untuk merendahkan profesi?.

Tapi orang lain lho yang merendahkan profesi saya, sering kita dengar pembelaan seperti itu. Maaf saya bilang, orang lain tidak akan bisa merendahkan kita kecuali kita mengijinkan pikiran kita meng-amin-kan pendapat mereka. Seringkali yang merendahkan profesi kita adalah pikiran yang meng-aminkan pendapat umum.

Contoh yang paling dekat, silakan berjalan – jalan ke akun facebook teman baru saya di dunia maya, mbak Hanny Handayani. Saya mengangkat dua jempol untuk penghormatan dirinya pada profesi yang sedang dijalani sekarang. Penghormatannya pada pekerjaan, membawa-nya menghormati diri. Penghormatannya pada diri, membuka banyak potensi tersembunyi dalam dirinya, salah satunya, menulis. Caranya menulis, caranya menceritakan sesuatu, ringan, jenaka tapi ngga kehilangan makna. Ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari tulisan – tulisan mbak Hanny. Saya merasa beruntung dan meletakkan hormat saya padanya.

Jadi masih malu dengan jenis pekerjaan atau profesi kita? Mari menyelidik hati, jangan – jangan kita sendiri yang tidak menaruh hormat padanya.

Selamat pagi, selamat berkarya. (photo credit : azquotes.com)quote-the-way-in-which-we-think-of-ourselves-has-everything-to-do-with-how-our-world-sees-arlene-raven-58-46-75.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s